Bandar Lampung, Infosos.id – Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok dan bertambahnya beban biaya pendidikan, Pemerintah Kota Bandar Lampung tengah menggelar rangkaian Begawi Kota Bandar Lampung dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-344 Kota Bandar Lampung dengan berbagai kegiatan seremonial dan hiburan berskala besar.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Pawai Budaya dan Street Festival yang akan digelar pada 19 Juli 2026, menampilkan sekitar 80 kendaraan hias dan parade budaya yang dimulai dari kawasan Tugu Adipura. Selain itu, Bandar Lampung Expo dan Hiburan Musik berlangsung pada 18, 20, 22, dan 23 Juli 2026, menghadirkan pameran UMKM, stan instansi pemerintah, serta konser musik yang dimeriahkan sejumlah artis nasional.
Di balik kemeriahan panggung hiburan dan pesta uang rakyat tersebut, muncul suara-suara masyarakat yang mempertanyakan prioritas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pasalnya, pada saat pemerintah menggelar berbagai acara seremonial, banyak warga justru sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Sejumlah warga dan pedagang mengeluhkan kenaikan harga sejumlah bahan pangan yang mulai dirasakan setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi usai libur sekolah. Mereka menilai meningkatnya kebutuhan bahan baku, seperti beras, telur, daging ayam, cabai, dan sayuran, diduga ikut memengaruhi harga di tingkat pasar. Kondisi tersebut semakin menambah beban rumah tangga yang pada saat bersamaan juga harus menyiapkan kebutuhan sekolah anak.
Di sisi lain, ribuan orang tua siswa baru SD dan SMP Negeri di Kota Bandar Lampung juga tengah dipusingkan dengan berbagai biaya setelah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Meski pendaftaran sekolah negeri tidak dipungut biaya, setelah diterima orang tua masih harus menebus seragam sekolah di sekolah masing-masing dengan nilai lebih dari Rp1,3 juta per siswa, ditambah biaya ekstrakurikuler, uang kas, dan berbagai kebutuhan sekolah lainnya.
Ironisnya, Dokumen Rencana Umum Pengadaan (RUP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung APBD Tahun Anggaran 2026 mencatat anggaran pengadaan perlengkapan siswa SD Negeri sebesar Rp2,4 miliar dan SMP Negeri sebesar Rp2,4 miliar, sehingga total mencapai Rp4,8 miliar. Data tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai peruntukan anggaran tersebut, mengingat orang tua masih dibebani biaya perlengkapan sekolah yang tidak sedikit.
Keluhan juga datang dari sejumlah warga Kota Bandar Lampung. Irma, warga Sukarame, mengaku pengeluaran keluarganya meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir. “Belanja dapur sekarang semakin mahal. Ditambah lagi anak baru masuk sekolah, biaya seragam dan kebutuhan lainnya juga besar. Kami berharap pemerintah lebih fokus membantu masyarakat daripada menggelar acara yang menghabiskan anggaran” keluhnya.
Hal senada disampaikan Yanti, warga Teluk Betung Timur. Ia mengaku mulai merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok setelah program MBG kembali berjalan usai libur sekolah. “Telur, ayam, cabai, sampai sayuran harganya naik. Kami tidak tahu penyebab pastinya, tapi setelah MBG mulai berjalan lagi belanja dapur terasa lebih mahal. Ditambah biaya sekolah anak, pengeluaran keluarga semakin berat” ujar warga tersebut.
Sementara itu, Yudi, warga Kemiling, menilai pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. “Kalau uang rakyat dipakai untuk kegiatan yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat tentu kami mendukung. Tapi saat rakyat sedang menjerit karena harga pangan naik dan biaya sekolah meningkat, kemeriahan pesta seperti ini terasa kurang tepat momentumnya” cetus Yudi.
Pendapat serupa disampaikan Setiawan, warga Tanjung Senang. “Kami ingin pemerintah hadir membantu meringankan beban warga. Harga pangan naik, biaya sekolah juga tinggi. Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton kemeriahan yang dibiayai dari uang rakyat sendiri” kata warga.
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung lebih mengedepankan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, seperti menjaga stabilitas harga bahan pangan, meringankan biaya pendidikan, dan memperkuat daya beli masyarakat.
Di tengah gegap gempita parade budaya, kendaraan hias, expo, dan konser musik dalam perayaan HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, pertanyaan publik pun mengemuka: apakah ini benar-benar pesta rakyat, atau justru pesta yang dibiayai uang rakyat, sementara rakyat sendiri masih berjuang menghadapi mahalnya kebutuhan hidup dan biaya pendidikan?. (Ar02)



















