INFOSOS.ID, PARUNG – Di saat banyak orang sibuk berebut meja untuk meminta anggaran, ada seorang wanita yang memilih membangun kursinya sendiri. Namanya Umi Waheeda. Beliau tidak datang ke kementerian dengan map tebal berisi proposal, dan tidak pula pandai mengiba demi bantuan. Beliau justru melakukan sesuatu yang membuat banyak pihak merasa malu: beliau tidak meminta apa-apa.
Bayangkan sebuah wilayah kecil bernama Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Di sana, ada 15.000 anak yang makan tiga kali sehari, tidur di asrama yang layak, dan sekolah hingga perguruan tinggi tanpa pernah ditagih biaya sepeser pun. Gratis total.
Rahasianya bukan pada donatur asing atau subsidi besar, melainkan pada sebuah “mesin ekonomi” yang dibangun dengan keringat sendiri. Umi tidak bicara soal pemberdayaan; beliau menjalankannya. Beliau tidak berteori soal ketahanan pangan; beliau menanam ratusan hektar sawah.
Di bawah asuhannya, pesantren ini menjelma menjadi raksasa mandiri dengan 59 unit usaha. Ada pabrik roti, tahu, susu kedelai, hingga percetakan. Semua dikelola sendiri, dan hasilnya diputar kembali untuk menghidupi ribuan mimpi santrinya. Umi berpikir tentang produksi, di saat yang lain masih sibuk berpikir tentang anggaran.
Satu hal yang paling menggetarkan hati adalah keberaniannya menjaga martabat. Pada tahun 2008, ketika praktik pungli mencoba menyusup ke dunianya, Umi tidak memilih jalur aman. Beliau tidak takut izinnya dipersulit atau administrasinya diputar-putar.
Beliau justru memimpin belasan ribu santrinya berdiri tegak untuk menolak praktik kotor tersebut. Kenapa beliau seberani itu? Karena beliau mandiri. Ketika hidup kita tidak bergantung pada sistem yang rusak, suara kita akan terdengar jauh lebih lantang. Umi mengajarkan satu hal penting: Kemandirian ekonomi bukan cuma soal uang, tapi soal keberanian untuk tidak bisa dipalak.
Lahir di Singapura dengan pendidikan kelas dunia, Umi Waheeda membawa disiplin sistem Barat ke dalam jiwa pesantren. Beliau adalah doktor komunikasi yang sangat akademik, namun juga seorang ibu yang tegas mengurus ekosistem ekonomi pesantren.
Setelah wafatnya sang suami, Habib Saggaf, beliau memikul amanah yang beratnya bukan main: menjaga pesantren tetap gratis sampai kiamat. Sebagai perempuan di lingkungan yang cenderung maskulin, beliau membuktikan bahwa martabat pemimpin diukur dari kinerja, bukan sekadar kata-kata.
Kisah Umi Waheeda adalah pengingat bagi kita semua yang sering beralasan, “Ya mau gimana lagi, sistemnya memang begini.” Umi menunjukkan bahwa selalu ada opsi untuk membuat jalur sendiri. Memang capek, memang berdarah-darah, tapi setidaknya kita tidak kehilangan harga diri.
Di saat dunia sibuk mencari sisa-sisa anggaran, Umi Waheeda berdiri tegak dan berkata melalui karyanya: “Anak-anak saya tidak akan tumbuh dari belas kasihan, tapi dari kehormatan.”

Umi Waheeda Mendobrak Dominasi Laki-laki Memimpin Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Kab. Bogor. (Tulisan Laksmi Wuryaningtyas tahun 2018)
PONDOK Pesantren adalah dunia laki-laki. Di sana selalu ada kyai yang jadi panutan seluruh santri. Sementara perempuan di pondok pesantren, umumnya berperan hanya mengurus dapur, memasak untuk semua penghuni pondok.
Namun, dominasi laki-laki di pondok pesanten itu berhasil didobrak seorang perempuan cantik, tinggi dan langsing. Ya, Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman dipimpin oleh seorang perempuan. Namanya Umi Waheeda. Usianya baru 58 dan telah memimpin pondok tersebut selama 16 tahun.
Tak tanggung-tanggung. Jumlah santrinya sekarang ada 15.000 orang dan semuanya gratis. Tak ada donasi pula. Inilah satu-satunya dari 17 pondok pesantren terbesar di Pulau Jawa yang dipimpin seorang perempuan.
Lalu bagaimana pondok pesantren yang berlokasi di Desa Waru Jaya, Parung, Bogor ini bisa eksis? Ceritanya cukup panjang dan sangat menegangkan. Betapa tidak, Umi Waheeda yang nota bene hanya seorang ibu rumah tangga dengan 7 anak dan tak pernah mencari uang itu tiba-tiba dihadapkan pada beban yang maha berat. Sang suami, Habib Saggaf, pendiri dan pemilik pondok meninggal dunia pada 2010. Umi mendapat warisan santri berjumlah 23.000 orang yang harus diberi makan tiap hari.
“Dulu semasa ada Habib, saya ini cuma tukang masak. Sehari saya masak 7 ton beras. Sekarang karena jumlah santrinya berkurang jadi 15.000, kami merebus singkong 3 ton setiap pagi,” kata Umi.
Umi Waheeda adalah isteri ketiga Habib Saggaf. Begitu Habib Saggaf meninggal, Umi sangat tertekan. Tiga hari dia mengurung diri di kamar, menangis berkepanjangan. Orang yang sangat dia cintai pergi untuk selamanya. “Umur 20 tahun saya menikah dengan Habib Saggaf, tapi saya tidak pernah mencari uang,” ujarnya.
Umi Waheeda bingung dan sedih. Beban yang harus ditanggungnya berat sekali. Memang ada warisan asset, tetapi sang suami juga mewariskan hutang sebesar Rp1 miliar. Juga tagihan listrik tiga bulan belum dibayar. Yang paling berat adalah dia dikeroyok 6 anak dari isteri pertama dan 6 anak dari isteri kedua. Dari fitnah-fitnah yang dilancarkan mengakibatkan semua donasi dihentikan. Tak ada lagi donatur yang mau menyumbang pondoknya, karena tersiar fitnah bahwa Umi mau menjual semua asset Habib Saggaf.
Umi Waheeda adalah orang Melayu warga negara Singapura. Karena itu bahasa yang digunakannya sehari-hari campur-campur antara bahasa Indonesia, bahasa Melayu dan bahasa Inggris.
“Saya masuk Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia 27 tahun yang lalu karena menikah dengan Habib Saggaf. Habib sendiri berasal dari Dompu, NTB. Pondok ini dibangun tahun 1998,” kata Umi saat mulai bercerita.
Sepeninggal habib, Umi Waheeda benar-benar harus mengurus semuanya. Tak hanya santri yang jumlahnya 23.000 orang waktu itu (2010), tetapi juga ia harus mengirim nafkah ke dua madunya. Perempuan cantik ini juga harus merelakan barang-barang mewah miliknya pribadi untuk dijual. Diantaranya, mobil jaguar, jam rolex 2 buah, juga berlian 4 karat untuk menutupi kekurangan biaya. Setelah itu, mulailah Umi menyeleksi santri-santrinya yang hanya benar-benar membutuhkan. Dari 23.000 orang dipangkas menjadi 15.000 orang. Memang banyak protes, tapi tak ada pilihan bagi Umi.
Beruntung, pada pertengahan 2011 Umi ketemu dengan Krishna Soejitno Soeprapto, seorang pebisnis profesional. Umi meminta Krishna bergabung membantu pondok, karena ada banyak unit usaha yang harus dikelola agar pondok tetap eksis.
“Awalnya berat sekali, boleh dibilang horor, hahaha,” kata Krishna yang dipercaya menjadi CEO 33 unit usaha milik Nurul Iman.
Dalam mengelola pondok pesantren, Umi Waheeda dikenal dengan pola manajemen diktator. Kepada Krishna, Umi Waheeda meminta agar pondok tetap gratis, tetapi juga harus berkualitas. Tentu dua standar itu lumayan berat dijalankan.
“Saya tersesat di jalan yang benar,” ujar Krishna berseloroh.
Untuk menekan pengeluaran, Umi punya strategi dengan memproduksi sendiri segala kebutuhan santrinya. Karena itu, unit-unit bisnis Nurul Iman mengutamakan produksi pangan, energi dan air minum. Dalam bahasanya Umi Waheeda dinamakan strategi FEW (Food, Energy and Water).
Produk Nurul Iman diantaranya beras campur jagung dengan merk Berni (Beras Nurul Iman). Ada juga air minum dalam kemasan, roti, bawang hitam, sabun, lampu hemat energi, biogas dll. Selain itu ada beberapa usaha jasa seperti salon dan spa.
Unit-unit usaha tersebut sekaligus menjadi tempat bagi santri untuk belajar menjadi pengusaha. Umi menginginkan santri-santrinya kelak menjadi pengusaha, guru atau pemimpin.
Swa sembada di tiga bidang itu menarik perhatian Bank Indonesia karena bisa menjadi contoh penguatan ekonomi pondok pesantren. Melalui program CSR, Bank Indonesia membantu Nurul Iman di bidang energi. Dana yang dikucurkan sebesar Rp300 juta sangat bermanfaat bagi Nurul Iman.
Dana itu dipakai untuk membangun industri biogas dari kotoran santri. “Karena jumlah sapi kami sedikit dan kotoran santri itu menjadi masalah tersendiri yang harus dicarikan solusi,” kata Umi Waheeda menjelaskan.
Banyak sekali manfaat yang didapat dalam industri biogas ini. Setidaknya, Umi Waheeda bisa menghemat pengeluaran biaya menyedot WC sebesar Rp 13 juta setiap bulannya. Lalu, lahan 2 hektar yang selama ini dipakai untuk pembuangan kotoran santri bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Biogas yang dihasilkan bisa dipakai sendiri untuk memasak, sehingga pengeluaran untuk membeli gas bisa dihemat setidaknya 3 hingga 4 tabung kecil yang biasa disebut tabung gas melon per hari.
Manfaat lain adalah meluasnya silaturahmi antar pondok pesantren. Makin sering Nurul Iman didatangi para pengelola pondok pesantren dari seluruh Indonesia untuk berbagi ilmu, baik manajemen, teknologi maupun pemasaran. “Mereka menemukan row model kemandirian ekonomi syariah di Nurul Iman,” ujar Krishna.

Sejarah Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman
Awal mula berdirinya ponpes (pondok pesantren) ini tak luput dari krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu, As Syekh Habib Saggaf Bin Mahdi Bin Syekh Abi Bakar Bin Salim, yang akrab dikenal dengan panggilan Abah, merasa prihatin akan banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena kesulitan ekonomi.
Beliau kemudian bertekad membangun lembaga pendidikan Islam gratis untuk menolong masyarakat yang tidak mampu. Ponpes tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman dan berlokasi di Desa Waru Jaya, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Berawal dari kobong bambu dengan ukuran 3×4 meter, kini ponpes ini berhasil menjadi salah satu role model dengan sukses memberikan pendidikan gratis dan berkualitas bagi para santrinya. Sesuai dengan slogan mereka “Free and quality education supported by social entrepreneurship”, ponpes ini berhasil sukses dengan mengedepankan sistem social entrepreneurship.
Kesuksesan ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman dalam menjalankan sistem social entrepreneurship tak luput dari peran istri sang pendiri pesantren yang dikenal dengan panggilan Umi Waheeda. Semenjak Habib Saggaf atau Abah wafat pada 12 November 2010, kepemimpinan Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman dilanjutkan oleh sang istri. Pesan Abah agar ponpes tersebut harus selalu digratiskan biaya pendidikannya, membuat Umi berusaha untuk tetap menjalankan amanah tersebut di tengah-tengah kesulitan finansial.
Pergantian kepemimpinan ponpes kepada Umi Waheeda membawa perubahan dalam pola kepemimpinan khususnya dalam aspek kewirausahaan. Selama masa kepemimpinannya, Umi dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan berani.
Umi juga melakukan perubahan dengan meningkatkan standar operasional pesantren daripada masa kepemimpinan Abah. Sehingga Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman terkenal dengan sistemnya yang sangat ketat.
Beliau berusaha memperbaiki manajemen ponpes yang sebelumnya hanya berbasis kepercayaan, lalu menggantinya dengan menerapkan sistem manajemen finansial dan manajemen sumber daya manusia. Umi kemudian mengembangkan ponpes dengan pendekatan socio entrepreneurship yang accountable, accessible, accurate dan transparant.
Berkat gaya kepemimpinannya dan sistem manajemen terbaru yang beliau terapkan, Umi berhasil mencapai kemandirian finansial pesantren dengan memberikan pendidikan, konsumsi, kesehatan, dan fasilitas gratis bagi 15 ribu santri. Beliau juga menekankan pembelajaran entrepreneurship pada seluruh santri agar selepas lulus dari ponpes dapat menjadi pebisnis sukses yang tetap berpegang teguh pada syariat Islam.
Kemandirian Ekonomi Pesantren dengan Sistem Kewirausahaan dan Kemitraan
Setidaknya, terdapat 59 unit bisnis yang dimiliki oleh ponpes tersebut. Bisnis tersebut membentuk rantai nilai yang dikenal dengan istilah Halal Value Chain. Seluruh kegiatan bisnis dari hulu hingga hilir dimiliki oleh ponpes tersebut yang seluruhnya dijalankan bersama oleh pengurus ponpes dan para santri.
Bisnis yang dikelola oleh ponpes ini, mulai dari bisnis Daur Ulang Sampah, Pabrik Roti, Pabrik Tahu dan Tempe, Konveksi nurul Iman, Agribisnis dari hulu hingga hilir mencakup pertanian, perikanan, peternakan, pupuk, dan pakan, dan masih banyak lagi. Seluruh santri pada ponpes tersebut pun turut berpartisipasi dengan secara langsung menjalankan bisnis yang ada.
Manajemen kewirausahaan yang dijalankan utamanya adalah untuk memenuhi berbagai keperluan santri seperti kebutuhan konsumsi pangan sehari-hari yang seluruhnya mulai dari beras, lauk-pauk, hingga air minum merupakan hasil produksi ponpes tersebut. Meskipun begitu banyak pula produk mereka yang berhasil di ekspor hingga ke berbagai negara seperti Korea, Jepang, Malaysia, dan Nigeria.
Selain fokus pada pengembangan sistem kewirausahaan, ponpes tersebut juga berfokus pada sistem kemitraan. Meskipun merupakan lembaga pendidikan berbasis Islam, tetapi Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman tidak membatasi kemitraan hanya dengan lembaga agama Islam saja. Ponpes tersebut juga bekerja sama dengan berbagai kalangan baik yang profitable maupun kegiatan sosial semata.
Sejak awal didirikan, ponpes tersebut telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga mulai dari lembaga pemerintahan hingga swasta. Mitra swasta yang berperan penting diantaranya seperti kerja sama dengan Yayasan Tzu-Chi (Yayasan Buddha yang memberikan layanan kesehatan gratis), Dompet Dhu’afa, BRI Syariah terkait sistem keuangan, dan masih banyak lagi.
Strategi Pengembangan Bisnis Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman
Keberhasilan Umi Waheeda dalam mengembangan socio entrepreneurship tak luput dari strategi pengembangan bisnis yang beliau rancang. Adapun strategi bisnis yang diterapkan oleh Umi Waheeda diantaranya sebagai berikut:
- Pengembangan bisnis yang terintegrasi dalam Halal Value Chain (sistem ekonomi syariah yang mencakup beberapa sektor industri dari hulu hingga hilir).
- Perluasan skala usaha melalui peningkatan kapasitas mesin produksi, tenaga kerja, dan modal investasi
- Perluasan cakupan usaha dengan mengembangkan jenis usaha baru di wilayah usaha yang baru
- Perluasan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun unit usaha
Keterlibatan para santri dalam mengelola bisnis secara bersama-sama
Nah, itu dia kisah sukses penerapan social entrepreneurship pada Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Ponpes tersebut berhasil membuktikan bahwa prinsip kewirausahaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dapat menciptakan dampak positif yang besar.

Riwayat Sosok Wanita Hebat Umi Waheeda
Lahir di Singapura, 14 Januari 1968 dari pasangan Ibu Safinah binti Abdurrahman dan Bapak Abdurrahman bin Adnan.
Beliau memiliki darah Banyumas-Ponorogo dari garis ibu dan melayu dari ayahnya dan merupakan putri pertama dari 4 bersaudara yaitu: 1). Waheeda binti Abdul Rahman 2). Zakhina binti Abdul Rahman 3). Umar bin Abdul Rahman dan 4). Sai bin Abdul Rahman.
Beliau dibesarkan di Queens Town dan hidup di lingkungan modern serba ada. Meski demikian, anak pertama dari keempat bersaudara ini selalu memegang teguh prinsip hidupnya bahwa ia selalu “do the best and be the best”.
Masa kecil beliau dihabiskan bersama keluarga dan adik-adiknya yang selalu memprioritaskan pendidikan di atas segala-galanya. Umi kecil merupakan anak yang berprestasi dan berbakat hampir disemua mata pelajaran terutama dalam bidang olahraga dan bahasa inggris. Tak terhitung piala yang ia persembahkan bagi kedua orang tuanya sebab umi pun beberapa kali sukses menjuarai olimpiade fisika, tari melayu serta cabang olahraga lari.
Setamatnya dari Anglo Chinese Junior dan Secondary School, Umi melanjutkan studi di Cresent Girl School, mengambil jurusan sastra Inggris dengan O level Cambridge. Di tempat ini prestasi umi semakin meningkat terlebih ditunjang kemampuan bahasa Inggris yang baik.
Setelah tiga tahun menghabiskan masa remajanya di college, Umi memutuskan untuk menuntut ilmu agama dan nyantri di Indonesia, tepatnya di Darul Ulum International School di Surabaya.
Selama berguru bersama As-Syekh Habib Saggaf, Umi telah mempelajari berbagai macam ilmu agama dan sukses melakukan transliterasi beberapa kitab kuning ke dalam bahasa inggris. Dalam perjalanan selanjutnya Umi mulai menghafal al-Qur’an dan tidak lama kemudian beliau memutuskan untuk menikah dengan Abah pada tanggal 5 Mei 1988 di Singapura.
Setelah itu Umi menetap di Indonesia mendampingi perjuangan Abah dalam berdakwah. Dari Darul Ulum, Abah mengembangkan sayap dakwahnya ke Bintaro dengan membuka sebuah Majlis Ta’lim di Masjid Raya Bintaro. Hingga kemudian Ditahun 2001 Umi memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi WNI (Warga Negara Indonesia).
Pada tanggal 14 Mei 1998, saat Indonesia mengalami krisis moneter di Orde Baru, Abah dan Umi melihat banyaknya remaja yang putus sekolah akibat himpitan masalah ekonomi.
Akhirnya mereka sepakat untuk hjrah ke Parung Kabupaten Bogor, merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan bebas biaya yang kemudian masyhur di kenal dunia dengan nama Pondok Pesantren Nurul Iman.
Disamping mendampingi suami dalam memimpin sekolah berbasis Islam dan bebas biaya ini, Umi pun melanjutkan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 2007.
Setelah itu, beliau pun berhasil meraih gelar magisternya di London School Of Public Relation dan mendapat anugerah sebagai Best Student pada tahun 2010.
Namun ditengah-tengah prestasi dan bertambahnya santri, Allah berkehendak lain. Hari Jum’at, 12 November 2010, Abah berpulang ke rahmatulloh meninggalkan Umi, beserta keluarga dan belasan ribu santri. Ucap singkat namun sarat makna yang beliau tinggalkan adalah “Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman harus tetap gratis sampai kiamat”.















