Indonesia, Infosos.id – Teori paling segar akhirnya datang dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menelan anggaran raksasa, kasus keracunan di mana-mana, menu yang tidak bergizi, dan target yang meleset jauh, solusinya bukan evaluasi. Solusinya adalah menyalahkan yang mengkritik.
Menurut Sudaryono, lebih dari 60 persen akun di media sosial itu bukan orang, melainkan robot. Jadi, kalau Presiden Prabowo dihujat di medsos, yang menghujat itu bukan rakyat yang kecewa, tapi robot yang dikendalikan oligarki dan koruptor.
Logika yang sangat brilian. Dan sangat ironis. Justru yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya.
Rakyat yang protes harga naik, jalan berlobang, sekolah SD rusak, dan program gagal itu adalah manusia asli, dengan akun asli, dengan perut yang benar-benar lapar. Mereka yang harus antre, yang harus bayar pajak, yang merasakan langsung.
Sementara yang memuja-muja pemerintah tanpa henti, yang membela program gagal seolah sudah sukses, yang menyerang setiap kritik dengan kalimat copy-paste yang sama, yang membuat tagar #TerimaKasihPakPrabowo trending setiap ada kasus keracunan MBG – akun-akun itulah yang patut dicurigai sebagai robot.
Kita semua tahu siapa yang selama ini memelihara buzzer. Bukan oligarki yang di luar kekuasaan. Buzzer itu hidup dari anggaran, dari proyek, dari akses. Tugasnya satu, membuat pencitraan pemerintah tetap kinclong, meski programnya gagal di lapangan.
Program MBG triliunan rupiah lancar meski banyak anak keracunan, tapi ketika rakyat kritik di TikTok dan X, rakyatnya yang dibilang robot.
Pemerintah lupa, di era sekarang, rakyat tidak lagi bodoh. Mereka tahu bedanya kritik organik dan pujian yang dibayar.
Ketika pejabat sudah mulai menuduh 60% netizen adalah robot, itu artinya 60% kegagalannya sudah tidak bisa lagi ditutupi oleh buzzer-nya sendiri.
Sudaryono tidak perlu mencari oligarki di luar sana. Cobalah buka dashboard admin buzzer di dalam. Mungkin di sanalah 60% itu berada.













