JAKARTA, Infosos.id – Siapa sangka kliping koran foto hitam-putih seorang pelajar 80-an yang beredar di grup WhatsApp perwira tinggi Polri hari ini, adalah Kapolri yang baru saja disahkan DPR dan dilantik Presiden Prabowo Subianto.
Hari ini, 1 Oktober 2026, sejarah baru ditulis. Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Kepala BNN, resmi disepakati Komisi III DPR sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ketua DPR Puan Maharani mengetok palu SAH.
Tapi yang bikin publik kaget bukan ketok palunya. Melainkan foto masa mudanya yang tiba-tiba viral.
Dalam foto dokumentasi era 1980-an itu, tampak seorang bocah kurus dengan seragam SD/SMP kebesaran, berponi, berdiri di barisan paling belakang. Wajahnya polos, tatapannya lurus ke depan. Tidak ada yang menyangka, 40 tahun kemudian, bocah itu akan memimpin 470 ribu pasukan Bhayangkara di seluruh Indonesia.
Ini bukan sinetron. Ini fakta. Lahir 14 Juli 1973 di Pandeglang, Banten, Suyudi adalah anak generasi 80-an yang tumbuh tanpa internet. Dari bangku sekolah kayu, ia masuk Akademi Kepolisian tahun 1994.
32 tahun ia merangkak dari bawah:
Jadi Kapolsek kecil, di Pasar Minggu dan Tanah Abang yang rawan tawuran.
Jadi Kasat Reskrim, yang tidur 2 jam sehari untuk kejar begal dan pembunuh di Jakarta.
Jadi Kapolres, di Majalengka, Bogor, hingga Jakarta Pusat.
Jadi jenderal reserse, yang memburu mafia siber dan bandar narkoba.
Jadi Kapolda Banten dan Kepala BNN. Hingga puncaknya menjadi orang nomor satu di institusi Polri.
Tidak ada jalan tol. Semua lewat jalan terjal reserse. Pangkatnya bukan pemberian, tapi tetesan keringat penyidikan.
Di saat banyak jenderal sibuk pencitraan, Suyudi adalah tipe jenderal lapangan yang mengusung doktrin ‘POLISI BERSAMA MASYARAKAT’.
Dalam uji kelayakan hari ini ia berkata lantang: “Kritik berbasis fakta adalah sistem peringatan dini, bukan sesuatu yang harus ditutupi.”
Kalimat dari seorang calon Kapolri yang pernah jadi pelajar 80-an yang difoto apa adanya.
Dari pelajar 80-an yang namanya bahkan tidak tercatat di album kenangan.
Menuju puncak Tribrata sebagai Kapolri.
Ini bukan sekadar pergantian jabatan. Ini adalah bukti bahwa di Polri, anak singkong pun bisa jadi jenderal bintang empat jika kerja keras.
Dari masa lalu menuju masa depan. Dari bangku sekolah menuju puncak kepolisian. Selamat datang era baru Polri. Selamat bertugas Jenderal.














