KAMPAR, infosos.id – Inilah wajah asli pendidikan kita. Bukan di gedung mewah ber-AC, tapi di kelas jauh UPT SDN 007 Sungai Agung, Tapung, Kampar, Riau. Dindingnya triplek lapuk, lantainya tanah, berdiri sejak 2004. Selama 22 tahun dibiarkan hidup segan mati tak mau.
Satu-satunya yang berani bersuara adalah Ibu Rohmawati, guru honorer yang gajinya bahkan mungkin tak cukup untuk beli triplek baru. Ia merekam video, bukan untuk mencari ketenaran, bukan untuk menjatuhkan siapa-siapa. Ia hanya ingin satu hal, anak-anak muridnya bisa belajar dengan layak. Sebuah harapan paling sederhana dari seorang pendidik.
Setelah videonya viral, Wakil Bupati Kampar Misharti dan rombongan pejabat memang turun ke lokasi. Sebuah pengakuan telak bahwa mereka “baru tahu” ada sekolah seperti itu di wilayahnya sendiri setelah 22 tahun. Pengakuan yang seharusnya menjadi tamparan memalukan bagi kinerja pemerintah daerah.
Namun yang terjadi setelahnya jauh lebih menyakitkan daripada triplek yang lapuk.
Bukannya peluk dan terima kasih, “Terima kasih bu guru sudah menunjukkan borok kami,” Ibu Rohmawati justru muncul dalam video kedua, memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Takut dianggap menjelekkan pemerintah. Takut videonya menyudutkan penguasa.
Sejak kapan kejujuran harus meminta maaf?
Ini pola klasik penguasa anti-kritik di negeri ini. Lebih alergi pada viral daripada pada fakta.
Fakta bahwa ada anak bangsa belajar di kandang triplek selama 22 tahun tidak membuat mereka malu. Tapi video yang membongkar fakta itu yang membuat mereka tersinggung. Prioritasnya terbalik.
Bukannya langsung menganggarkan perbaikan, memanggil dinas pendidikan, dan memberikan penghargaan kepada guru jujur, mereka justru sibuk melakukan damage control, menggiring seorang guru honorer yang lemah secara kuasa untuk mengucapkan kata maaf.
Apa yang mau dimaafkan ibu Rohmawati? Bahwa ia jujur? Bahwa ia peduli?
Tindakan meminta klarifikasi ini adalah bentuk pembungkaman halus. Ini adalah pesan intimidasi untuk semua guru honorer lain di Indonesia, “diam saja, mengajar saja di gedung reot itu, jangan berani-berani merekam dan membuat kami malu.”
Wahai para pejabat Kampar, nama baik instansi tidak rusak karena video ibu Rohmawati. Nama baik itu sudah rusak sendiri karena kalian membiarkan kelas jauh itu berdiri reot selama 22 tahun tanpa pernah kalian kunjungi.
Kalian tidak butuh klarifikasi dari ibu Rohmawati. Rakyat butuh klarifikasi dari kalian. Kemana saja anggaran pendidikan selama 22 tahun ini? Kenapa harus menunggu viral dulu baru pura-pura peduli?
Jika kejujuran seorang guru honorer saja harus dibungkam dengan permintaan maaf, maka jangan pernah bermimpi pendidikan Indonesia akan maju. Yang maju hanya pencitraan para penguasanya.






