Di Rumah Dadar Telor Saja Sudah Mewah, di Sekolah Anakku Dilarang Makan MBG Karena Takut Mati Keracunan (Kisah seorang ibu dari keluarga kurang mampu di Kota Bandar Lampung)
Liputan Khusus: Juned Krakatau
INFOSOS.ID | Negara menyebutnya program terbaik. Program andalan penguasa. Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Tapi bagi seorang ibu dari keluarga kurang mampu, di Tanjung Senang, Bandar Lampung, program terbaik itu adalah sumber ketakutan terbesarnya setiap pagi saat melepas anaknya ke sekolah.
Sebut saja Cantik. Murid kelas satu Sekolah Dasar. Anak yang cerdas, tapi pemalu. Selama hampir tiga bulan menjadi murid baru, ia tidak pernah terlihat makan bersama teman-temannya.
Setiap jam makan siang tiba, isi ompreng MBG yang diterimanya selalu ia masukkan utuh ke dalam tas bekal yang dibawanya dari rumah. Tak pernah disentuh.
Padahal ada kebijakan keras dari Kepala BGN, Sudaryono, bahwa MBG tidak boleh dibawa pulang. Sekolah pun patuh menerapkan aturan itu. Semua murid wajib menghabiskan MBG di sekolah.

Wali kelas yang lama memperhatikan Cantik mengira ia sudah makan. Ternyata tidak. Cantik justru mengembalikan ompreng itu masih utuh, masih tertutup rapat kepada gurunya.
Karena penasaran, sang wali kelas bertanya pelan.
“Kenapa MBG nya tidak dimakan, Sayang?”
Jawaban polos itu keluar dari mulut mungilnya, jujur dan menusuk.
“Tidak boleh sama mama dan papa, nanti keracunan,” jawab Cantik.
Wali kelas mencoba meyakinkan. Katanya MBG tidak akan membuat keracunan, katanya ini penting untuk gizi. Cantik hanya menggeleng. Tatapannya takut.
“Anak ibu, kalau di rumah makannya enak-enak ya?” pancing wali kelas.
“Tidak Bu, hanya makan dengan ikan asin dan tempe. Tapi kalau papah dapat uang, di rumah makan pakai dadar telor,” jawabnya.
“Setiap hari makan telor ya?”
Cantik menggeleng lagi. Bagi keluarganya, dadar telor adalah kemewahan yang hanya datang jika ayahnya dapat rezeki.

Rasa penasaran itu membuat wali kelasnya tidak bisa tidur berhari-hari. Ia pun memanggil orang tua Cantik, bukan lewat grup WhatsApp wali murid, tapi langsung tatap muka, demi menjaga privasi keluarga miskin itu.
Datanglah sang ibu. Dengan pakaian sederhana, ia menunduk di hadapan wali kelas.
Ia mengaku, sejak TK ia dan suaminya sudah melarang Cantik menyantap MBG. Alasannya cuma satu: takut keracunan.
Padahal, pengakuan itu menyesakkan. Mereka adalah keluarga kurang mampu. Sehari-hari di rumah mereka hanya makan sayur bening atau sayur asam dengan lauk tempe, sesekali ikan asin. Jika suaminya dapat rezeki lebih, barulah mereka membeli beberapa butir telur, dan telur itu hanya khusus untuk Cantik, anak bungsu mereka.
Wali kelas kembali mencoba menjelaskan, agar tidak khawatir berlebihan.
Namun jawaban sang ibu justru meruntuhkan semua retorika tentang “program terbaik” yang dibanggakan penguasa di Jakarta.
Matanya berkaca-kaca, ia bertanya lirih, “Apakah kalau tidak makan MBG anak saya akan dikeluarkan Bu guru?”
Lalu air matanya tumpah.
“Kami takut Bu, lebih baik anak kami makan seadanya daripada nanti keracunan. Tolong Bu, maafkan kami yang miskin ini,” tutur ibu Cantik sambil terisak.
“Tolong Bu guru, jangan keluarkan anak saya.”
Hening. Tidak ada lagi kata-kata. Dua orang ibu itu hanya terdiam, menangis dalam diam. Saling memahami ketakutan yang sama: takut kehilangan anak.
Di luar sana, penguasa masih berpidato bahwa MBG adalah program terbaik bangsa. Data keracunan terus bertambah, sudah ribuan anak menjadi korban di berbagai daerah. Tapi program tetap jalan terus.

Sementara di sebuah SD kecil di Tanjung Senang, seorang anak miskin lebih memilih menahan lapar di sekolah, mengembalikan makanan gratis yang utuh, demi bisa pulang dan makan sepiring nasi dengan ikan asin dan tempe bersama ibunya dengan selamat.
Bagi Cantik, makan dengan dadar telor saja sudah istimewa. Ia tidak butuh program terbaik dari penguasa. Ia hanya butuh rasa aman untuk tidak keracunan.













