Infosos.id, Teheran – Kepastian kondisi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke negara tersebut terungkap. Media Iran melaporkan Ayatollah Ali Khamenei tewas terbunuh karena serangan yang terjadi Sabtu (28/2/2026).
Dikutip dari Associated Press, media Iran melaporkan Khamenei gugur saat serangan AS menyasar kantornya di Teheran.
“Kematiannya di kantor menunjukkan bahwa ia secara konsisten berdiri di antara rakyatnya dan berada di garis depan tanggung jawabnya, menghadapi apa yang disebut para pejabat sebagai arogansi global,” bunyi pernyataan TV pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026)
Kabinet Iran pun menjanjikan adanya pembalasan atas kematian Khamenei. “Kejahatan besar ini tak akan pernah dibiarkan tanpa balasan,” bunyi pernyataan mereka.
Kepastian ini menjawab isyu Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya telah mengumumkan kematian Khamenei di media sosial Truth.

Siapa Sosok Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran Yang Disegani Dunia
Dilansir Aljazeera dan laman Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia adalah putra kedua Sayyed Javad Khamenei, ulama sederhana dan miskin yang mengajarkan keluarganya hidup sederhana dan rendah hati.
Ali Khamenei kecil menempuh pendidikan di maktab, sekolah dasar tradisional pada masa itu, untuk belajar alfabet dan Al-Qur’an. Setelah itu, dia pindah ke sekolah Islam untuk melanjutkan pendidikannya. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya di seminari teologi di Mashhad.
Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, Ali Khamenei belajar logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam. Ia belajar di bawah pengawasan ayahnya dan bimbingan sejumlah ulama besar.
Ayatollah Ali Khamenei dalam Revolusi di Iran
Saat remaja Khamenei sudah mendengarkan pidato berapi-api dari ulama pemberani, Nawwab Safavi, menentang kebijakan Shah yang anti-Islam dan licik, sebelum akhirnya ia menjadi martir rezim Shah.
Pada 1962, Ayatollah Ali Khamenei bergabung dalam barisan pengikut revolusioner Imam Khomenei (pemimpin politik Revolusi Islam Iran) saat menentang kebijakan rezim Shah yang dinilai pro-Amerika dan anti-Islam. Tanpa kenal takut, ia mendedikasikan dirinya di jalan ini selama 16 tahun hingga akhirnya rezim Shah jatuh.
Atas keberaniannya itu, Khamenei mendapat kehormatan dari Imam Khomeini untuk misi membawa pesan rahasia Ayatollah Milani dan ulama lainnya terkait cara dan taktik mengungkap sifat rezim Shah.
Dalam perjalanan hidupnya untuk revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei menjalani penangkapan dan pengasingan. Dia ditahan di “Penjara Gabungan Polisi-SAVAK” di Teheran selama berbulan-bulan. Setelah bebas, dia dilarang memberikan ceramah atau mengadakan kelas-kelas.
Ayatollah Khamenei juga diasingkan selama tiga tahun karena aktivitas rahasianya terendus oleh SAVAK. Setelah bebas, ia terus konsisten melanjutkan kegiatan politik-keagamaan, terlibat dalam demonstrasi massal di seluruh Iran.















