Example floating
Example floating
Example 728x250
DaerahInfo MarginalMata Sosial

Jembatan Gantung Rapuh di Perbatasan Lampung Tengah–Tubaba, Warga Pertaruhkan Nyawa Demi Sekolah dan Nafkah

×

Jembatan Gantung Rapuh di Perbatasan Lampung Tengah–Tubaba, Warga Pertaruhkan Nyawa Demi Sekolah dan Nafkah

Sebarkan artikel ini
Foto: Jembatan gantung penghubung Kabupaten Lampung Tengah dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung

Infosos.id, Tulang Bawang Barat  — Jembatan gantung yang menghubungkan wilayah Kabupaten Lampung Tengah dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) kini kondisinya sangat memprihatinkan, dengan susunan papan kayu yang mulai lapuk dan banyak patah, sehingga kerap memicu kecelakaan bagi para pengguna.

Jembatan sepanjang sekitar 70 meter yang membentang di atas rawa dan sungai, sebagai akses vital satu-satunya bagi warga Tiyuh Tunas Asri, Tulang Bawang Barat, menuju wilayah perkebunan di Gunung Madu, Lampung Tengah, dan sebaliknya.

Di tengah kondisi yang membahayakan, aktivitas warga tetap bergantung pada jembatan tersebut. Mulai dari pekerja perkebunan, petani, hingga anak-anak sekolah harus melintasinya setiap hari.

BACA JUGA :  Pengakuan Seorang Guru Pecandu Narkoba Dari Pringsewu Lampung

Komang, warga Gunung Batin Baru, menuturkan bahwa jembatan itu telah digunakan sejak tahun 2004.

“Dulu kami pakai perahu. Harapan kami sekarang dibuatkan jembatan baru yang lebih aman,” harapnya.

Hal senada disampaikan Waharas, warga Tunas Asri, yang berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen. Menurutnya, kecelakaan kerap terjadi, terutama bagi pengendara sepeda motor yang nekat melintas di jembatan yang sejatinya hanya layak untuk pejalan kaki.

“Sering terjadi kecelakaan, apalagi anak sekolah juga lewat sini setiap hari,” katanya.

Ada sekitar 173 kepala keluarga (KK) dari wilayah Gunung Batin bermukim di seberang jembatan. Mereka menggantungkan akses pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan sehari-hari ke wilayah Tubaba.

BACA JUGA :  Yuk, Cek Kamu Termasuk Generasi Apa? Dari Silent, Baby Boomer, Gen-X, Milineal, GenZ, Alpha, Hingga Beta
Gambar : Fathur, pelajar yang pernah mengalami kecelakaan di jembatan gantung penghubung kabupaten Tulang Bawang Barat dengan Lampung Tengah

Herman, warga Tunas Asri lainnya, menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan urat nadi aktivitas masyarakat dari Tunas Asri hingga Sindang Agung.

“Semua aktivitas lewat sini, anak sekolah, belanja, sampai mengangkut hasil bumi. Kami sangat berharap jembatan ini dibangun lebih layak agar kami benar-benar bisa merasakan kemerdekaan dalam bentuk akses yang aman,” ujarnya.

Ia juga berharap aspirasi masyarakat dapat sampai kepada pemerintah daerah hingga tingkat provinsi.

Tragisnya, kondisi jembatan yang tidak layak ini telah memakan korban. Fatur, seorang pelajar SMP, menjadi salah satu korban kecelakaan akibat patahnya papan jembatan.

BACA JUGA :  DPRD Tubaba Masih Bungkam Soal Pinjaman Pemda Rp30 Miliar. Pengamat Ekonomi: PP 1/2024 Tidak Otomatis Hutang Daerah  Tanpa Persetujuan DPRD 

“Saya jatuh ke sungai karena papan patah. Tangan saya patah dan harus dirawat dua bulan, penyembuhannya sampai lima bulan,” tuturnya lirih

Orang tua Fatur yang mendampingi berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, khususnya untuk keselamatan anak-anak yang harus menempuh risiko besar demi pendidikan.

“Kami mohon dibangun jembatan permanen agar anak-anak bisa sekolah dengan aman dan masa depan mereka lebih terjamin,” ungkapnya.

Kondisi ini menggambarkan ketimpangan infrastruktur yang masih dirasakan masyarakat di wilayah pelosok. Di saat akses jalan yang layak menjadi kebutuhan dasar, warga di perbatasan justru harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *