Example floating
Example floating
Opini

Ketika Si Dungu dan Tolol Menasihati Si Bodoh

×

Ketika Si Dungu dan Tolol Menasihati Si Bodoh

Sebarkan artikel ini
Gambar hanya imajinasi pendukung tulisan oleh AI. Mohon maaf apabila kebetulan ada yang menyerupai.

Infosos id | Ada sebuah negeri yang aneh. Di negeri itu, orang yang merasa paling pintar sibuk mencari orang bodoh. Orang yang mengaku paling waras sibuk menunjuk orang gila. Dan orang yang gemar menyebut pemerintah tolol, tiba-tiba merasa memiliki mandat moral untuk memberikan nasihat kepada penguasa.

Lucunya, nasihat itu datang dari dua mulut yang oleh publik sendiri sudah lama dimasukkan ke dalam satu kategori: si dungu dan si tolol.

Sementara di istana, duduklah si bodoh.

Maka bertemulah tiga spesies dalam satu ruangan: si dungu, si tolol, dan si bodoh. Sungguh sebuah pertemuan yang layak dicatat dalam sejarah.

Si dungu membuka percakapan, “Pemimpin harus mendengar suara rakyat.”

Si bodoh mengangguk. Si tolol ikut menimpali, “Pemimpin harus menggunakan akal sehat.”

Si bodoh kembali mengangguk. Lalu keduanya semakin bersemangat.

“Jangan terlalu percaya kepada orang-orang di sekitar Anda.”

Si bodoh mulai mencatat.

“Jangan mudah menerima laporan yang sudah dipoles.”

Si bodoh mengangguk lagi.

“Jangan sampai kekuasaan membuat Anda kehilangan kenyataan.”

Kali ini si bodoh berhenti mencatat. Ia menatap keduanya. “Kalau begitu,” katanya, “selama ini saya salah?”

BACA JUGA :  Gerakan Kotak Kosong: Refleksi Satu Tahun Pilkada Tubaba 2024

Si dungu dan si tolol saling berpandangan. Keduanya tersenyum.

“Tidak,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Mungkin rakyat saja yang belum memahami betapa sulitnya menjadi pemimpin.”

Ruangan mendadak hening.

Begitulah nasihat politik di negeri ini. Orang yang kemarin sibuk mengatakan bahwa penguasa tidak boleh bodoh, hari ini datang membawa buku petunjuk tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

Orang yang setiap hari mengatakan bahwa kekuasaan harus dikritik, tiba-tiba ingin menjadi guru bagi kekuasaan.

Lebih menarik lagi, mereka tidak lagi berbicara dari kejauhan. Kini suara mereka terdengar lebih dekat dengan meja kekuasaan.

Tidak perlu menjadi penguasa. Cukup menjadi orang yang boleh berbisik kepada penguasa.

Sebab dalam politik, rupanya jarak antara pengkritik dan kekuasaan tidak selalu diukur dalam meter. Kadang-kadang cukup diukur dari seberapa dekat seseorang mendapatkan tempat untuk berbicara.

Dulu suaranya terdengar dari luar pagar. Kini nasihatnya terdengar dari dalam pagar.

Dulu kekuasaan adalah objek kritik. Kini kekuasaan menjadi tempat menyampaikan nasihat.

BACA JUGA :  Saat Elit Politik Gamang, Rakyat Harus Merebut Inisiatif

Tetapi jangan salah.

Ini bukan soal seseorang berubah pikiran. Bukankah setiap orang berhak berubah?

Yang menarik adalah ketika seseorang terlalu lama mengajari penguasa tentang bahaya kekuasaan, lalu suatu hari mendapatkan tempat untuk duduk lebih dekat dengannya.

Di titik itu, kritik menjadi menarik.

Sebab kritik yang dulu dilemparkan ke istana, kini bisa saja kembali ke istana melalui pintu depan.

Dengan pakaian yang lebih rapi. Dengan kursi yang lebih nyaman. Dan dengan nama yang lebih terhormat: nasihat.

Padahal persoalannya sederhana.

Kalau si bodoh benar-benar bodoh, bagaimana mungkin ia memahami nasihat dari si dungu dan si tolol?

Dan kalau si dungu serta si tolol benar-benar pintar, mengapa mereka membutuhkan si bodoh sebagai tempat untuk membuktikan kepintaran mereka?

Mungkin begitulah cara kerja kekuasaan.

Ia tidak selalu mengubah pendirian seseorang. Kadang-kadang ia hanya mengubah posisi duduknya.

Kemarin berdiri di luar. Hari ini duduk di dalam.

Kemarin menunjuk kekuasaan. Hari ini menunjuk kepada kekuasaan sambil berkata, “Begitulah seharusnya kekuasaan bekerja.”

Dan lucunya, semua itu bisa berlangsung dengan wajah yang sangat serius. Seolah-olah sejarah sedang menunggu setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka.

BACA JUGA :  Petani, Organisasi, dan Politik yang Bekerja Diam-Diam

Padahal rakyat mungkin hanya sedang bertanya: “Bukankah kemarin kritik diarahkan kepada kekuasaan?”

Lalu siapa yang mengkritik ketika pengkritik sudah menjadi penasihat?

Pertanyaan itu tentu tidak perlu dijawab. Sebab politik memang tidak selalu membutuhkan jawaban.

Kadang-kadang politik hanya membutuhkan kursi. Kursi untuk duduk. Kursi untuk berbicara. Kursi untuk memberi nasihat. Dan, kalau beruntung, kursi untuk tetap terlihat penting.

Di sinilah negeri ini kembali memperlihatkan kelucuannya. Ketika si dungu menasihati si bodoh, si tolol merasa dirinya profesor.

Ketika si tolol mengajari si bodoh tentang kebijaksanaan, si dungu merasa dirinya filsuf.

Dan ketika keduanya mendapatkan tempat untuk terus menasihati si bodoh, mereka bertiga mungkin merasa sedang menyelamatkan negeri.

Rakyat? Rakyat cukup menonton.

Sebab terkadang, pertunjukan politik terbaik bukan ketika orang pintar berbicara kepada orang bodoh.

Melainkan ketika si dungu dan si tolol bergantian menasihati si bodoh—sementara ketiganya yakin bahwa merekalah orang paling pintar di negeri ini.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *