Example floating
Example floating
Liputan KhususNasional

Dr. Media Wahyudi Askar: Anak Muda UGM yang Berani Kritik Prabowo dengan Data, Bukan Dengan Amarah

×

Dr. Media Wahyudi Askar: Anak Muda UGM yang Berani Kritik Prabowo dengan Data, Bukan Dengan Amarah

Sebarkan artikel ini
Foto ist (dok. Keluarga): Dr. Media Wahyudi Askar, S.I.P., M.Sc., Ph.D.

JAKARTA, Infosos.id – Di tengah riuhnya politik yang penuh pencitraan dan jargon, muncul satu nama anak muda yang memilih jalur berbeda, mengkritisi kebijakan Presiden Prabowo Subianto secara berani, cerdas, dan berbasis data.

Dia adalah Dr. Media Wahyudi Askar, S.I.P., M.Sc., Ph.D.

Bukan buzzer, bukan politikus. Ia adalah akademisi, peneliti, dan pengamat kebijakan publik yang rekam jejaknya tidak bisa diremehkan.

Media adalah Dosen di Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik, FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM). Lebih dari itu, ia adalah pendiri dan Direktur Kebijakan Publik di lembaga think tank independen Center of Economic and Law Studies (CELIOS) – salah satu think tank paling vokal dan kredibel dalam membedah kebijakan ekonomi Indonesia hari ini.

BACA JUGA :  Ketua Umum Formades Sampaikan Ucapan Selamat Atas Terpilihnya Junaedhi Mulyono Sebagai Ketua Umum Apdesi 2026-2031

Latar belakang pendidikannya adalah bukti bahwa kritiknya bukan asal bunyi:

S1 Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, S2 International Development (Public Policy and Management) dan S3 Development Policy and Management, keduanya dari The University of Manchester, Inggris.

Dengan modal akademik itu, kritik Media terhadap program-program Presiden Prabowo, mulai dari tata kelola APBN, skema pembiayaan Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga keadilan fiskal dan kebijakan energi, selalu disajikan dengan angka, data, dan bukti ilmiah.

Ia tidak berteriak di jalan. Ia menulis kolom tajam di Tempo, menjadi narasumber di media nasional, dan membongkar kebijakan dengan riset CELIOS yang bisa diuji publik.

BACA JUGA :  GILA! OTT BPN Bogor: 20 Koper Duit Ratusan Miliar, Dirjen ATR & Politikus Golkar Terciduk

Fokusnya jelas yaitu keadilan fiskal, perpajakan yang inklusif, penanganan kemiskinan, ketimpangan, inklusi keuangan, dan keberpihakan nyata pada UMKM. Baginya, kebijakan negara harus diukur dari seberapa adil dampaknya bagi rakyat bawah, bukan seberapa megah diumumkan di istana.

Di era di mana banyak akademisi memilih diam agar aman, Dr. Media Wahyudi Askar memilih bersuara. Sebuah pengingat bahwa tugas anak muda dan akademisi bukan menjadi penjilat kekuasaan, melainkan menjadi penyeimbang kekuasaan.

Kritik yang berbasis data adalah bentuk cinta paling jujur pada republik ini.

BACA JUGA :  Terkena OTT KPK Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman Memiliki Kekayaan Rp12 Miliar
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *