Oleh : Jufala
Tak seperti biasanya hari ini pak Man, tidak mencari rongsok (barang bekas) setelah pulang dari langgar. Pak Man terlihat agak rapi dengan kolot hitam sebatas betis yang sudah mulai coklat pudar, satu-satunya celana termewah yang dimiliki pak Man, dipadu dengan kaos biru bergambar pasangan capres dan wacapres.
Dengan motor made in cina brodol yang sudah berubah warna hitam kusam berkarat yang kranjang bambu pengangkut barang rongsok sengaja dilepas pak Man sejak semalam.
Wajah sumringah pak Man sempat menyapa beberapa tetangganya yang berpapasan dijalan, hari ini pak Man, sengaja ke kota untuk mencairkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) Kesejahteraan Rakyat tiga bulan Oktober-Desember di kantor pos kecamatan.
Pak Man sengaja berangkat lebih pagi, untuk menghindari antrian. Terlintas dipikiran pak Man, dia bisa membelikan hp android seken untuk anak perempuan semata wayangnya yang duduk di kelas VIII SMP Negeri.
Matahari sudah mulai menyengat pak Man baru tiba di kantor pos, dia melihat antrian warga kurang mampu di Kabupatennya sudah memenuhi sisi kiri kantor pos yang dipasang tenda dan diberi pembatas tali rapia.
“Wes rame,” gumamnya sambil memarkir motornya yang dipandu tukang parkir dari kejauhan.
Karena masih berkeringat, pak Man berteduh sesaat dibawah pohon Flamboyan disamping pedagang es cendol.
“Dawet lek,” kata pedagang cendol.
“Mboten mas,” jawab pak Man singkat.
Maklumlah pak Man, tidak membawa uang sepeserpun. Walau dalam hati kecil pak Man, betapa nikmatnya segelas es cendol tersebut, apalagi rasa lelah dan haus pak Man begitu terasa kering ditenggorokannya.
Setelah merasa sedikit hilang rasa lelahnya pak Man berjalan menuju tenda untuk ikut antri bersama warga lainnya. Tak ada lagi kursi plastik kosong, sehingga pak Man harus berdiri diposisi belakang diluar tenda yang disediakan petugas.
Lebih dari tiga jam pak Man antri berdiri, tiba-tiba suara azan berkumandang dari masjid kantor pos. Pak Man mulai gelisah, antrian masih sangat panjang. Karena berdiri terlalu lama, kaki pak Man mulai bergetar, belum lagi rasa lapar ikut menyerang daya tahan pak Man. Dengan wajah sedikit pucat, pak Man memutuskan keluar dari antrian pergi menuju masjid untuk menunaikan sholat Zuhur, sekalian minum air wudhu untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang sudah terasa sangat kering.
Setengah jam lebih pak Man berada didalam masjid, selain menunaikan sholat Zuhur sekaligus beristirahat sementara didalam masjid yang cukup adem dan sejuk dari hembusan AC masjid. Setengah berat pak Man berdiri dan dengan gontai dia keluar masjid untuk kembali ikut antrian menunggu giliran mencairkan dana BLT tahun ini.
Beruntung pak Man kebagian kursi kosong dibagian belakang antrian. Dan pak Man masih harus menunggu bersama warga lainnya yang mulai terlihat letih dan kesal. Sementara petugas yang membagikan BLT masih beristirahat untuk makan siang.
Lebih dari dua jam, menunggu, terdengar petugas memanggil namanya dari pengeras suara. Dengan wajah tersenyum pasi dan penuh semangat pak Man berjalan menuju loket pembagian dana BLT.
Setelah selesai mendapatkan haknya pak Man bergegas menuju tempat parkir, tetapi dari kejauhan pak Man mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Pak Man menoleh kearah yang memanggil namanya, ternyata mba Susi wanita yang sangat dia kenal. Karena mba Susi adalah istri pak RK didesanya yang biasa membantu warga mengurus bantuan baik BLT maupun KPM PKH (Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan) sebagai kepanjangan tangan petugas pendamping PKH.
Pak Man, langsung menghampiri mba Susi, yang berada diluar pagar kantor pos yang banyak pedagang makanan dan minuman.
“Pun cair Pak?,” mba Susi membuka pembicaraan.
“Sampun, Alhamdulillah mba,” jawab pak Man sambil tersenyum penuh hormat.
Dalam obrolan singkat dipinggir pagar kantor pos itu, pak Man diminta sukarelanya untuk berbagi sedikit uang dari BLT yang diterimanya. Tetapi dipatok minimal Rp100.000 dengan alasan untuk pak Kades dan membantu kegiatan di desanya.
Setelah selesai urusannya dengan mba Susi, pak Man kembali menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Belum sempat naik motor, petugas parkir menghampiri pak Man untuk meminta jasa parkir, padahal didepan ada dua papan secara jelas bertuliskan ‘Parkir Gratis’. Sebagai orang ndeso, pak Man, bertanya berapa uang parkirnya.
Setengah terkejut, pak Man dipalak oleh petugas parkir sebesar Rp20.000. Dengan hati sedikit kesal, pak Man membayar jasa parkir yang dijaga oleh preman sekitar.
Pak Man, segera mengengkol motornya dan meninggalkan kantor pos, dengan rasa sangat bahagia setelah menerima uang BLT, walau harus berkurang untuk iuran sukarela yang diminta mba Susi dan pungli yang diminta petugas parkir liar.
Hari semakin sore, perjalan pak Man belum separuhnya dari kantor pos di Kecamatan menuju rumah reotnya bebilik bambu dan beratap asbes bekas, berukuran 3 x 5 meter persegi yang masih menumpang ditanah salah satu kerabatnya jauh istrinya yang seorang pejabat di Pemerintah Provinsi.
Ditengah perjalanan pak Man memutuskan mencari mushola atau masjid di pinggir jalan untuk menunaikan sholat Asar, khawatir kehabisan waktu sholat sebelum tiba dirumahnya.
Tak begitu jauh, pak Man menemukan sebuah masjid kecil yang sepi, pak Man mampir untuk Sholat Asar. Setelah sholat pak Man melanjutkan perjalanan pulang, dan sengaja pak Man memilih jalan pintas yang agak sepi dengan harapan dapat segera sampai dirumah dan menyerahkan uang dari BLT kepada istrinya. Terbayang wajah anak perempuannya tersenyum bahagia, karena akan dibelikan hp android bekas yang sangat dibutuhkan anaknya untuk menunjang proses belajar disekolah.
Dijalan gang becek yang agak jauh dari pemukiman warga, pak Man melihat beberapa pemuda yang terlihat sedang mabuk karena minuman keras. Pak Man berusaha mempercepat laju motor bututnya untuk menghindari anak-anak muda yang mabuk tersebut. Namun sial motor pak Man tergelincir karena jalan yang becek dan licin.
Belum sempat bangkit, dua pemuda setengah mabuk menghampirinya. Dan mereka melihat kantong celana kolot pak Man yang terkoyak ada uang.
Seorang pemuda berusaha mengambil uang pak Man, dengan tangan kanannya pak Man menutup uang dalam saku celananya, sambil bermohon untuk tidak diambil.
Melihat rekannya yang berusaha merebut uang dari saku pak Man, beberapa pemuda yang sedang duduk-duduk sambil minum ikut menghampiri pak Man, mereka berusaha mengambil uang pak Man.
“Tolong,… jangan mas,” kata pak Man memelas.
Setengah kesetanan beberapa pemuda berusaha merampas uang pak Man. Tiba-tiba, “bruukk !!!” sebuah benda tumpul menghantam wajah Pak Man yang membuat badan pak Man bergetar ketakutan dan darah segar muncrat dari wajah keriput pucat pak Man.
Dengan penglihatan yang mulai terganggu, dan menahan rasa nyeri, pak Man berujar lirih, “jangan mas, ampun.” Bukannya berhenti para pemuda setengah mabuk tersebut mendaratkan beberapa tendangan ke wajah, dada dan perut pak Man.
Sayup-sayup terdengar oleh pak Man, salah satu pemuda berkata kepada temannya. “hajar, chok… biar mampus sekalian.” kembali benda tumpul menghantam kepala pak Man.
Setengah sekarat pak Man, masih menyaksikan ada kobaran api membakar motor bututnya. Pak Man tak sadarkan diri, dan para pemuda mabuk tersebut segera kabur sambil membawa uang pak Man yang berhasil mereka rampas.
Azan Magrib berkumandang dibarengi hujan yang sangat deras. Kilatan petir dan suara geledak menggetarkan hati warga. Sesosok tubuh setengah baya masih tergeletak dipinggir jalan gang yang becek dan sunyi. Pak Man, belum sadarkan diri, dan tak ada satu pun warga yang melintas karena hujan yang semakin deras, seolah ikut menangis menyaksikan tubuh pak Man yang masih tergeletak, entah pinsan atau sekarat.
Jam menunjukan pukul sembilan malam lebih, warga digemparkan dengan adanya sesosok tubuh yang masih tergeletak dibadan jalan. Warga tak ada yang berani menolong. Beruntung salah satu warga berinisiatif menelpon Babinkamtibmas setempat, melaporkan penemuan tubuh yang tergeletak di jalan.
Tak begitu lama, Babinkamtibmas, Babinsa, dan beberapa anggota polisi dari Polsek serta pamong kelurahan datang memberi pertolongan kepada pak Man yang masih belum sadarkan diri.
“Ini masih, ada denyut,” kata salah satu anggota kepolisian memecah keheningan dibawah guyuran hujan yang belum juga reda.
Tubuh pak Man, segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun setelah tiba dirumah sakit, tubuh pak Man diletakan disudut lantai teras UGD Rumah Sakit cukup ternama dikota ini.
Pihak rumah sakit menolak untuk segera memberi pertolongan cepat, karena alasan administrasi dan belum ada pihak yang bertanggungbawab dan memberi jaminan penanganan pak Man.
Warga, aparatur kelurahan dan petugas keamanan pun jadi kebingungan, karena mereka juga tidak mengenal pak Man, dan tidak ada identitas yang ditemukan. Petugas kepolisian, Babinkamtibmas dan Babinsa memutuskan kembali ketempat kejadian dimana tubuh pak Man ditemukan.
Dalam pencarian malam ini, salah satu warga berhasil menemukan selembar KTP yang terpendam lumpur, atas nama Sudarman. Dari KTP tersebut diketahui alamat dan usia pak Man, yang baru berusia sekitar 40 tahun, namun pisik dan raut wajah pak Man terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Pamong dan petugas segera mendatangi keluarga pak Man
Untuk mengabarkan musibah yang dialami pak Man kepada anak dan istrinya. Bersama pamong dan petugas, istri dan anak pak Man mendatangi rumah sakit tempat pak Man tergeletak yang belum mendapat penanganan medis rumah sakit.
Malang belum berakhir, kehadiran istri dan anak pak Man belum juga ada solusi, BPJS untuk orang miskin atau kurang mampu dikenal sebagai BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran) pak Man ternyata tidak aktif (non aktif) sehingga tidak dapat digunakan. Atas kebijakan pihak rumah sakit, keluarga pasien wajib menyerahkan uang jaminan yang jumlah jutaan rupiah. Tentu hal tersebut sangat memberatkan keluarga pak Man yang ternyata sudah dua hari ini pak Man dan keluarganya hanya makan sehari sekali itu pun nasi parutan singkong berlakukan garam dan cabai yang ditanam istri pak Man.
Atas musyawarah pamong dan Babinkamtibmas, Babinsa dan tokoh masyarakat, ada warga yang siap meminjamkan uangnya sebagai jaminan untuk perawatan pak Man. Yang penting pak Man segera ditangani oleh tim media rumah sakit.
Malam ini terasa sunyi sepi dan penuh kesedihan yang menyayat hati, dikursi panjang tuang tunggu sudut UGD Rumah Sakit, isak tangis istri pak Man sambil memeluk anak semata wayang mereka belum mereda. Tiba-tiba seorang tim medis memanggil keluarga pak Man.
“Selamat malam, ada keluarga pasien atas nama Sudarman?” ujar tim medis sambil mencari tahu.
Sambil terisak, istri pak Man menjawab, “saya dok.”
Sambil duduk disisi istri pak Man, tenaga medis menyampaikan kabar dengan ramah dan setengah berbisik, “Maaf ibu, kami sudah berusaha, ibu harus tabah ya. Pak Sudarman sudah tidak ada.” jelasnya.
Kontan, tangis istri pak Man memecah keheningan yang amat dingin malam ini. Beberapa warga tetangga pak Man dan pamong tempat tinggal pak Man, masih ikut menemani keluarga pak Man di rumah sakit. Mereka juga merasa sangat sedih mendengar kabar pak Man telah tiada.
Setelah tangis istri pak Man sedikit mereda, warga dan pamong bermusyawarah untuk membawa jenazah pak Man pulang. Salah satu pamong mengurus kepulangan jenazah pak Man. Lagi-lagi ujian datang ditengah duka dan kesedihan anak istri pak Man. Pihak rumah sakit masih mengajukan biaya administrasi penggunaan Ambulan untuk membawa jenazah pak Man.
Malam ini jarum jam ruang tunggu UDG rumah sakit telah menunjukan jam setengah empat dini hari. Atas kesepakatan istri pak Man dan warga serta pamong, mereka memutuskan untuk membawa jenazah pak Man menggunakan mobil pick up, milik pak Kades.
Ditengah pagi buta dan hujan masih belum reda sepenuhnya, jenazah pak Man dibawa pulang ke rumahnya. Tepat Adzan Subuh berkumandang jenazah pak Man disemayamkan ditengah ruangan sempit gubuk reotnya dengan beralaskan sehelai tikar rombeng yang biasa digunakan pak Man dan keluarganya tidur dan menerima tamu bila ada kerabat atau tetangganya yang berkunjung.
Pagi ini, Kamis dibulan Desember warga dan pamong setempat bergotong-royong mengurus pemakaman pak Man. Terlihat banyak warga yang ikut sangat berduka atas kepergian pak Man, “pak Man orang baik, semoga husnul khotimah,” kata bu kades menghibur istri dan anak pak Man yang terlihat sangat berduka kehilangan suami dan ayah mereka yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sering merasakan kelaparan karena tidak ada yang dimasak untuk dimakan.
Pak Man, telah pergi selamanya. Namun kegigihan pak Man untuk bertahan hidup di negeri yang subur makmur ini, dan pergaulan pak Man selama hidup selalu ramah kepada tetangga dan siapun yang ia jumpai, ditambah ketaatan pak Man dalam beribadah menjadi teladan. Bahwa meskipun hidup penuh tekanan kemiskinan, pak Man tak pernah menyerah dan tak pernah mengeluh, pak Man selalu penuh semangat menjalani kehidupan, pak Man tak pernah menyakiti siapun, bahkan meski terkadang pernah mendapat hinaan, cibiran bahkan cacian karena kehidupannya yang miskin pak Man tak pernah membalasnya.
Selamat jalan pak Man, engkau sosok suami, ayah, teman dan tetangga yang selalu penuh semangat pantang mengekuh, walau kemiskinan dan penderitaan kau alami sampai akhir hayatmu.














