Example floating
Example floating
DaerahMarjinal

Duka Disandera Ambulans: Pejabat Disawer Rakyat. Pamekasan Darurat Hati Nurani 

×

Duka Disandera Ambulans: Pejabat Disawer Rakyat. Pamekasan Darurat Hati Nurani 

Sebarkan artikel ini
Tangkapan layar dari video amatir yang beredar di media sosial saat, Kepala Dinas Kesehatan dr. Saifudin dan Sekretaris Daerah Taufikurrachman Kabupaten Pamekasan, ditaburi uang oleh masyarakat yang kesal.

PAMEKASAN, Infosos.id – Kalau orang miskin saja masih harus patungan untuk memulangkan jenazah keluarganya, lalu untuk apa negara hadir?

Itulah pertanyaan paling telanjang yang meledak di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Kehilangan orang terkasih sudah merobek jantung. Tapi yang terjadi di RSUD dr. Slamet Martodirdjo jauh lebih kejam: dua jenazah warga miskin ditahan, tidak boleh dibawa pulang hanya karena keluarga tak mampu bayar sewa ambulans.

Bayangkan. Di ruang duka yang seharusnya penuh doa, yang terdengar justru kalkulasi biaya. Jenazah terbujur kaku, keluarga terisak, tapi pintu pulang terkunci oleh setumpuk kuitansi. Inilah wajah pelayanan kesehatan kita yang paling memalukan.

Puncaknya terjadi Kamis, 1 Oktober 2026. Kesabaran rakyat Pamekasan jebol. Puluhan warga mendatangi Kantor Bupati Pamekasan. Mereka tidak datang meminta jabatan. Mereka datang menagih rasa kemanusiaan yang hilang.

BACA JUGA :  DPRD Bandar Lampung Temukan Kejanggalan Proyek Trotoar Sultan Agung Rp21,7 Miliar, Perintahkan Bongkar Ulang

Sebuah video amatir beredar di platform media sosial yang merekam saat Kepala Dinas Kesehatan dr. Saifudin dan Sekretaris Daerah Taufikurrachman muncul, yang terjadi bukan dialog. Itu adalah pengadilan moral. Uang receh dan kertas dilempar, dihujankan ke arah pejabat. Itu bukan sedekah. Itu adalah saweran penghinaan.

Rakyat ingin berkata: Jika negara miskin hati, biar kami yang miskin harta ini yang membiayai negara. Sungguh ironi yang menyayat.

Aktivis kesehatan Iwan Mahardika menyebut aksi hujan uang itu sebagai tamparan keras. “Itu cermin bahwa rakyat masih punya empati, sementara sistem pelayanan kita mati empati,” ujarnya.

BACA JUGA :  Bunuh Petani di Mesuji, Pelaku Ditemukan Tewas Ditembak di Kebun Singkong

Sementara itu tokoh masyarakat Madura, H. Abd. Rahman Syakur mengatakan, “Ini aib. Ini bukan soal ambulans, ini soal ke mana perginya nurani pejabat kita. Janji Universal Health Coverage, janji berobat gratis, ternyata omong kosong bagi wong cilik. Kalau mengurus jenazah orang miskin saja dipersulit, jangan harap mereka peduli pada yang hidup. Bupati harus copot pejabat yang tidak punya hati itu” tegasnya

Seorang tokoh agama Pamekasan yang minta namanya tidak ditulis menjelaskan bahwa dalam Islam jenazah wajib dimuliakan.

“Dalam Islam, memuliakan jenazah itu wajib, menyegerakan pemakamannya adalah perintah agama. Menahan jenazah karena biaya adalah bentuk kezaliman. Rasulullah SAW bersabda, muliakanlah orang yang meninggal. Di mana kemuliaan itu jika jenazah disandera uang? Pemerintah yang membiarkan ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Ingat, jabatan itu akan ditanya”.

BACA JUGA :  Vonis Narkoba 5 Tahun vs 10 Tahun, Hakim PN Sibuhuan Digeruduk Mahasiswa

Peristiwa Pamekasan bukan sekadar kelalaian administrasi. Ini adalah kegagalan total negara dalam memanusiakan manusia.

Hari ini yang disandera adalah jenazah orang miskin. Besok, bisa jadi keadilan itu sendiri.

Rakyat Pamekasan sudah melempar uangnya ke muka kekuasaan. Pertanyaannya sekarang, apakah lemparan itu cukup keras untuk membangunkan pejabat yang tertidur pulas di atas penderitaan rakyatnya?

Redaksi membuka hak jawab bagi Bupati Pamekasan, Dirut RSUD dr. Slamet Martodirdjo, dan Dinkes Pamekasan.

Penulis: DaryoEditor: Bayu
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *