Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Diduga Dimarahi Seorang Dokter RSIA Umi Attaya. Keluarga Pasien Kuswanti Menilai Tidak Manusiawi

×

Diduga Dimarahi Seorang Dokter RSIA Umi Attaya. Keluarga Pasien Kuswanti Menilai Tidak Manusiawi

Sebarkan artikel ini
Gambar: RSIA Umi Attaya Tulang Bawang Barat. Insert (Kuswanti, Pasien)

Infosos.id | Tulang Bawang Barat – Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Umi Attaya, Tulang Bawang Barat, kembali menjadi sorotan publik. Seorang pasien bernama Kuswanti, warga Tirta kencana, diduga dipulangkan dalam kondisi belum stabil hingga mengalami pendarahan hebat hanya sehari setelah kembali ke rumah.

Menurut keterangan keluarga, Kuswanti sebelumnya dirawat akibat pendarahan dan telah dipersiapkan untuk tindakan operasi. Namun, pihak rumah sakit menyatakan operasi ditunda dengan alasan adanya pembengkakan jantung, sebagaimana disampaikan oleh dokter dan bidan yang menangani pasien.

“Katanya ada pembengkakan jantung, jadi operasi ditunda dan pasien disuruh pulang,” ungkap pihak keluarga.

Ironisnya, kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan. Setibanya di rumah, Kuswanti masih merasakan sakit. Sehari kemudian, pendarahan justru semakin hebat hingga pihak keluarga panik dan kembali melarikan pasien ke rumah sakit. Selasa 3/2/2026.

BACA JUGA :  JPSI Pertanyakan Alih Fungsi Gedung Pasar UMKM PKOR Jadi Kantor HIPMI Lampung

Kekecewaan keluarga semakin mendalam lantaran pasien dipulangkan tanpa rujukan, ditambah perlakuan yang dinilai tidak manusiawi. Kakak kandung pasien mengungkapkan bahwa Kuswanti sempat dimarahi oleh seorang dokter di rumah sakit tersebut.

“Pasien shock. Dia menangis histeris, jerit-jerit di ruang operasi karena sangat kecewa operasi dibatalkan. Padahal dia sangat berharap sembuh. Setelah itu pendarahannya malah semakin hebat,” ujar kakak pasien dengan nada sedih.

Masalah ini mendapat perhatian serius dari Yantoni, Ketua Komisi I DPRD Tulang Bawang Barat. Ia menilai keputusan memulangkan pasien dengan alasan gangguan jantung justru menimbulkan pertanyaan besar terkait kompetensi dan kesiapan layanan rumah sakit.

BACA JUGA :  Anggota DPR RI Rycko Menoza SZP Kritik Kebijakan Wali Kota Bandar Lampung Soal SMA Siger

“Kalau memang alasannya penyakit jantung, seharusnya diobati penyakit jantungnya, bukan malah disuruh pulang. Ini yang jadi tanda tanya,” tegas Yantoni.

Ia juga mempertanyakan kelengkapan tenaga medis spesialis di RSIA Umi Attaya, khususnya dokter spesialis jantung, apabila rumah sakit tersebut telah menjalankan tindakan operasi besar.

“Apakah rumah sakit ini sudah layak melakukan operasi besar, sementara dokter spesialisnya tidak lengkap, terutama spesialis jantung?” lanjutnya.

Tak ingin polemik berlarut, Yantoni secara tegas meminta adanya langkah konkret dari pemerintah.

“Tidak usah adu argumen. Atas nama DPRD, kami meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan rumah sakit ini, baik izin NIB maupun izin operasionalnya,” pungkas Yantoni.

BACA JUGA :  Time to “Sambat” ala Bupati Karanganyar: Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Curhat Warga

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Tulang Bawang Barat, dr Pramono saat ditemui di ruangannya menjelaskan bawah minta waktu diundur untuk memberikan statement, dikarenakan besok akan dihearingkan di gedung DPRD Kabupaten setempat, setelahnya dari keterangan kedua belah pihak maka baru tahu duduk persoalannya.

Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan dari pihak management RSIA Umi Attaya, pesan WhatsApp yang dikirim infosos.id, ke nomor 6282289034xxx (WA RSIA Umi Attaya) meskipun sudah terkirim, tetapi belum direspon.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *