Jakarta, infosos.id – Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak keras Pemerintah membuka borok anggaran sembako May Day 2025–2026. ICW menuding Kemensetneg sengaja menutup akses informasi publik soal ratusan ribu paket yang dibagikan di Monas 1 Mei lalu.
“Jangan main petak umpet pakai uang rakyat. Kemensetneg harus buka semua: dari mana duitnya, berapa nilainya, siapa vendornya,” tegas Kepala Divisi Hukum dan Investigasi ICW, Wana Alamsyah, Senin (4/5/2026)
Wana mengungkap ada 350 ribu paket sembako dari Perum Bulog yang dibagi saat perayaan Hari Buruh Internasional. ICW mencium aroma dana dari Kemensetneg mengalir ke program ini.
Tak cuma May Day, ICW juga menyorot 3 operasi sembako lain yang tak jelas pertanggungjawabannya:
1. 25 Maret 2025 – Bagi-bagi sembako di Kabupaten Bogor
2. 20 Maret 2026 – Kunjungan Presiden ke Sumatera
3. 28 Maret 2026 – Bazar di Monas
ICW mengaku sudah mengobrak-abrik situs Kemensetneg, Setkab, hingga LPSE. Hasilnya: nol. Tidak ada satu dokumen pun soal pengadaan sembako.
Anggaran gelap, pintu masuk korupsi. ICW ingatkan tragedi Bansos Covid-19 di Kemensos yang menyeret pejabat ke penjara.
Menutup data anggaran sama dengan menampar prinsip transparansi. Publik berhak tahu setiap rupiah yang dibakar untuk sembako.
Sembako dibagi saat hari besar dan kunjungan pejabat. ICW curiga bansos dipakai buat dongkrak citra, bukan bantu rakyat miskin.
Tanpa data penerima yang jelas, sembako rawan nyasar ke tim sukses, bukan warga yang benar-benar butuh.
“Kalau bersih kenapa takut dibuka? Sembako ini uang rakyat, bukan uang pribadi pejabat,” tutup Wana.





















