Pandeglang, infosos.id – Berapa nilai seorang guru yang datang setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, lalu pulang ke rumah tanpa kepastian kapan gajinya cair?
Pak Dedi Mulyadi tahu persis rasanya. Sejak 2007, guru honorer di SDN Pasirlancar, Pandeglang, Banten ini tak pernah absen berdiri di depan kelas. Bukan karena kontrak yang menggiurkan. Bukan karena tunjangan. Tapi karena 30 pasang mata muridnya di pelosok desa itu masih butuh seseorang yang mau mengajari mereka membaca, menulis, dan bermimpi.
Upahnya? Rp12.000 sampai Rp12.500 per hari. Hadir, dibayar. Sakit, tidak. Dalam sebulan, paling banyak Rp300 ribu ia bawa pulang. Itu pun jika dana BOS turun tepat waktu. Nyatanya, rapel tiga bulan sekali sudah jadi makanan sehari-hari.
Ironinya telanjang: Satu porsi mie ayam di warung seberang sekolah sudah Rp7.000. Artinya, separuh keringat Pak Dedi seharian hanya cukup untuk dua kali suapan.
Tapi Pak Dedi tidak pergi. Tidak mundur. Tidak membanting kapur demi ojek online yang jelas lebih menjanjikan. Pukul 07.00 ia sudah di sekolah. Mengepel lantai jika penjaga sekolah berhalangan. Menambal genteng bocor dengan kardus. Lalu mengajar. Semua ia lakoni dengan seragam yang sama, sepatu yang sama, dan senyum yang sama selama 17 tahun.
Kisah Pak Dedi bukan keajaiban. Itu tragedi yang dinormalisasi. Di balik pegunungan, di seberang pulau, di pelosok yang tak tersentuh sinyal, ada ribuan “Pak Dedi” lain. Mereka mengajar di kelas tanpa dinding, menulis di papan tulis yang terkelupas, dengan upah yang bahkan tak cukup untuk membeli beras seminggu.
Yang luar biasa bukan kemiskinan mereka. Yang luar biasa adalah mereka tetap memilih bertahan.
Mereka digaji untuk mengajar matematika, tapi yang mereka ajarkan setiap hari adalah keteguhan. Mereka tidak dibayar untuk menjadi pahlawan, tapi mereka memilih itu.
Jadi kalau hari ini kita lelah dengan macet, dengan target, dengan atasan yang marah-marah, ingatlah: Ada guru di Pasirlancar yang sudah 17 tahun tidak menyerah pada bangsa ini, hanya dengan Rp12.500 per hari.
Lalu, apa alasan kita untuk menyerah hari ini?














