Example floating
Example floating
Example 728x250
Adat Budaya

Mengenal Aksara Lampung dan Sejarah Singkatnya

×

Mengenal Aksara Lampung dan Sejarah Singkatnya

Sebarkan artikel ini
Aksara Lampung 'ka ga nga'

Infosos.id | Surat Lampung, juga disebut Aksara Lampung, adalah sekumpulan aksara tradisional Indonesia yang berkembang di pulau Sumatra bagian selatan. Aksara ini digunakan untuk menulis rumpun bahasa Lampung dan bahasa Melayu. Surat Lampung merupakan turunan dari aksara Kawi.

Surat Lampung aktif digunakan dalam tulisan sehari-hari masyarakat Lampung sejak pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20 sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini masih diajarkan di Provinsi Lampung sebagai bagian dari muatan lokal, tetapi dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.

Surat Lampung adalah aksara abugida yang terdiri dari tiga unsur, yaitu kĕlabay surat (19 aksara dasar), bĕnah surat (10 diakritik), dan tanda baca. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu.

Arah penulisan surat Lampung adalah dari kiri ke kanan. Tidak seperti turunan aksara Kawi di Jawa dan Bali, bentuk huruf di surat Lampung lebih sederhana serta tidak memiliki bentuk konjungsi susun (pasangan)

BACA JUGA :  Gubernur Yai Mirza Kilui Wartawan di Pemprov Pakai Bahaso Lappung Liputan Harei Kemis

Para ahli umumnya meyakini bahwa surat Lampung merupakan salah satu turunan aksara Brahmi, berdasarkan studi perbandingan bentuk aksara-aksara Nusantara yang pertama kali dijabarkan oleh Holle dan Kern. Namun begitu, sejarah evolusi surat Lampung tidak dapat dirunut dengan pasti karena surat Lampung sejauh ini hanya ditemukan pada materi yang umurnya tidak lebih dari 400 tahun.

Surat Lampung lazim ditulis pada media yang rentan rusak di iklim tropis, dan tidak ada prasasti atau peninggalan tua lainnya yang disetujui sebagai purwarupa langsung surat Lampung.

Kerabat paling dekat dari surat Lampung adalah rumpun surat Ulu seperti aksara Rejang dan aksara Incung. Baik rumpun surat Batak maupun rumpun surat Ulu berkembang di wilayah pedalaman Sumatra yang relatif lambat menerima pengaruh luar. Karena itu, ketika Sumatra menerima pengaruh Islam yang signifikan sejak abad ke-14, kedua wilayah tersebut mempertahankan penggunaan aksara turunan Brahmi selagi wilayah pesisir mengadopsi penggunaan abjad Jawi.

Diperkirakan surat Lampung pertama kali berkembang di daerah hulu Sungai Komering tempat mayoritas penutur bahasa Komering bermukim. Hal ini tampak dari kemiripan antara bentuk surat Lampung dengan surat Ulu di Sumatera Selatan.

BACA JUGA :  Keragaman Budaya Tradisi di Nusantara: Pengakuan Lisan, Tapi Hati yang Kosong

Dari Komering, surat Lampung menyebar ke arah selatan dan timur hingga menyentuh pesisir Selat Sunda.

Surat Lampung secara tradisional ditulis di sejumlah media, di antaranya yang paling lumrah adalah bambu, kulit kayu, tanduk binatang, rotan, dan kertas. Naskah dengan media-media tersebut dapat ditemukan dalam ukuran dan tingkat kerajinan yang bervariasi.

Tulisan sehari-hari umum digurat pada permukaan bambu, rotan, atau tanduk dengan pisau kecil (lading lancip). Tergantung dari warna dasar media, guratan ini kemudian dilumuri untuk meningkatkan keterbacaan.

Bila warna dasar media adalah putih, maka guratan akan dilumuri kemiri bakar. Bila warna dasar media adalah coklat/hitam, maka guratan akan dilumuri kapur sirih.

Kebanyakan naskah Lampung Kuno yang ditemukan pada abad ke-18 dan 19 menggunakan kulit kayu sebagai media. Salah satunya adalah naskah milik Jo. Trefusis yang diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian di Oxford pada 1630. Naskah ini diyakini sebagai naskah bersurat Lampung Kuno tertua yang pernah ditemukan.

BACA JUGA :  Kebijakan 'Kamis Beradat' Kak Mulai Diterapken Kebiyan Ijo

Cara pembuatan naskah dengan media ini serupa dengan pembuatan pustaha di Sumatera Utara. Untuk membuatnya, kulit dalam pohon gaharu (Aquilaria malaccensis) dipotong sesuai keinginan. Setelah itu, dijemur beberapa saat dan kemudian diamplas dengan daun yang keras supaya halus. Terakhir, kedua permukaan (depan dan belakang) kulit dalam itu dilumuri dengan air beras.

Berbeda dengan naskah bambu, rotan, dan tanduk, naskah kulit kayu ditulis dengan tinta menggunakan pena dari rusuk daun aren (Arenga pinnata) yang disebut kemasi. Tinta kemasi terbuat dari campuran buah deduruk (Melastoma malabathricum L.), arang, dan getah kayu kuyung (Shorea eximia).

Kertas baru umum digunakan pada abad ke-19. Kebanyakan kertas yang dipakai saat itu merupakan kertas Eropa yang ditoreh menggunakan pena biasa. Walau begitu, bambu, tanduk, rotan, dan kulit kayu terus digunakan sebagai media utama penulisan surat Lampung hingga abad ke-20 ketika tradisi tulis surat Lampung berangsur-angsur mulai menghilang. (sumber: Wikipedia)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *